Rabu, 13 Juni 2018
Awali Kerja Dengan Shalat Dhuha
Tubuh manusia memiliki ratusan tulang yang masing-masing dihubungkan dengan persendian. Jumlah persendian dalam tubuh manusia adalah 360, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW dan dibenarkan oleh para dokter. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana jika tulang-tulang yang ada dalam tubuh kita tersebut tidak dihubungkan dengan persendian. Atau salah satu persendian tersebut tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Maka, tidak ada yang mengetahui betapa besarnya nikmat ini kecuali orang yang telah kehilangan nikmat tersebut.
Shadaqah tanpa harta
Setiap hari, persendian kita mempunyai kewajiban untuk bershadaqah sebagai realisasi syukur kita kepada Allah, Dzat yang telah menciptakannya. Caranyapun beragam sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW,
"Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bershadaqah setiap harinya sejak matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang yang berselisih adalah shadaqah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shadaqah. Berkata yang baik juga termasuk shadaqah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah shadaqah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu berat dan lelahnya kita jika harus melakukan berbagai amal tersebut setiap harinya. Sehingga para sahabatpun bertanya, "Siapa yang sanggup melakukan, wahai Rasulullah?" Maka beliau menjawab, "Jika ia tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya." (HR Ahmad Abu Dawud)
Rasulullah SAW memberikan kemudahan kepada umatnya, bahwa semua shadaqah yang dilakukan oleh anggota badan tersebut dapat diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha, karena shalat merupakan amalan semua anggota badan. Jika seseorang mengerjakan shalat, maka setiap anggota badan menjalankan fungsinya masing-masing. Demikian penjelasan yang disebutkan oleh Ibnu Daqiqil 'Ied.
Jumlah raka'at Dhuha minimal adalah 2 raka'at sedangkan maksimalnya adalah 8 raka'at. Dengan menjalankan 2 raka'at Dhuha, kita telah melaksanakan salah satu wasiat Rasulullah SAW. Abu Hurairah berkata, "Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku dengan tiga perkara: puasa selama tiga hari setiap bulannya, dua raka'at shalat Dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur." (Muttafaq 'Alaihi)
Keutamaan shalat dhuha
Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung banyak fadhilah (keutamaan), namun tidak banyak dari kita yang memperhatikannya. Diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Darda' ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah ta'ala berfirman, "Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat pada permulaan hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu pada sore harinya." (HR. Tarmidzi)
At Thayyibi menerangkan bahwa dengan mengerjakan empat rak'at di pagi hari, Allah akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita dan menjauhkan kita dari semua yang tidak kita inginkan hingga sore hari. Fadhilah lainnya, orang yang mengerjakannya dimasukkan dalam golongan orang-orang yang kembali kepada Allah. Karena shalat Dhuha adalah shalat awwabin, shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (bertaubat). Dalam hadits lain Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pahala orang yang mengerjakan shalat Dhuha seperti orang yang mengerjakan umrah.
Menjadi kaya dengan shalat dhuha?
Ada diantara kaum muslimin yang begitu bersemangat mengerjakan shalat dhuha. Namun ironisnya ketika mereka melaksanakan shalat wajib, justru malas-malasan dan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Shalat subuh dikerjakan jam enam pagi dan salat asar hanya kalau sempat saja. Penyebabnya, ada tujuan lain ketika mereka mengerjakannya yaitu ingin mendapatkan balasan di dunia, biar lancar rezekinya dan menjadi orang yang kaya raya. Sehingga doa-doa yang dipanjatkannyapun hanya dengan kelancaran rizki. Demikian fenomena yang sering kita dapatkan di masyarakat. Dunia, mungkin saja mereka peroleh. Boleh jadi akan semakin lancar rizkinya dan karirnya terus meningkat. Namun apa yang mereka peroleh di akhirat? Qatadah ketika menafsirkan surat Hud: 15-16, ia berkata, "Barang siapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan shalehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai alasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlas dalam beribadah (yang hanya mengharapkan wajah Allah), selain akan mendapatkan balasan di dunia dia juga akan mendapatkan balasannya di akhirat."
Luangkan waktu
Waktu pelaksanaan shalat Dhuha adalah ketika matahari mulai naik sepenggalan, kira-kira seperempat jam setelah matahari terbit hingga waktu zawal (matahari tergelincir). Dan waktu yang paling afdhal adalah ketika matahari mulai panas.
Memang, tidak mudah untuk melaksanakan shalat Dhuha. Karena waktunya bertepatan dengan jam-jam dimulainya aktivitas keseharian, orang sibuk bekerja mencari rezki pada waktu tersebut. Namun, sesempit apapun waktu kita karena aktivitas sehari-hari, jika kita luangkan waktu sejenak untuk mengerjakan shalat Dhuha, Insya Allah tidak akan mengurangi jatah rizki yang telah ditentukan untuk kita. Kalau toh meluangkan waktu pada waktu tersebut tidak memungkinkan pula, karena peraturan perusahaan yang begitu ketat dan mengikat, shalat Dhuha bisa kita kerjakan sebelum masuk jam kerja. Nah, mari awali kerja kita dengan melaksanakan shalat Dhuha.
Jangan Mengharap “Terima Kasih” dari Seseorang
JikaTeman Baik Kita Tidak Balas Budi.
Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan Dia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan_Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka justru banyak yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia.
Tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan suatu kenikmatan adalah penyakit yang umum menimpa jiwa manusa. Karena itu, Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan, mencampakkan budi baik yang telah Anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan. Bahkan, tak usah resah bila mereka sampai memusuhi Anda dengan sangat keji dan membenci Anda sampai mendarah daging, sebab semua itu mereka lakukan adalah justru karena Anda telah berbuat baik kepada mereka.
{Dan, mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.} (QS. At-taubah:74)
Coba Anda buka kembali catatan dunia tentang perjalanan hidup ini! Dalam salah satu babnya diceritakan: shajdan, seorang ayah telah memelihara anaknya dengan baik. Ia memberinya makan, pakaian dan minuman, pendidikannya hingga menjadi orang pandai, rela tidak tidur demi anaknya, rela untuk tidak makan asal anaknya kenyang, dan bahkan, mau bersusah payah agar anaknya bahagia. Namun apa lacur, ketika sudah berkumis lebat dan kuat tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu menggonggong kepada orang tuanya. Ia tak hanya berani menghina, tetapi juga melecehkan, acuh tak acuh, congkak, dan durhaka terhadap orang tuanya. Dan semua itu, ia tunjukkan dengan perkataan dan juga tindakan.
Karena itu, siapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalahi fitrah, sudah seyogyanya menghadapi semua itu dengan kepala dingin. Dan, ketenangan seperti itu akan mendapatkan balasan pahala dari Dzat Yang perbendaharaan-Nya tidak pernah habis dan sirna.
Ajakan ini bukan untuk menyuruh Anda meninggalkan kebaikan yang telah Anda lakukan selama ini, atau agar Anda sama sekali tidak berbuat baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin agar Anda tak goyah dan terpengaruh sedikitnya oleh kekejian dan pengingkaran mereka atas semua kebaikan yang telah Anda perbuat. Dan janganlah Anda pernah bersedih dengan apa saja yang mereka perbuat.
Jika Teman Baik Kita Tidak Balas Budi.
Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan Dia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan_Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka justru banyak yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia.
Tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan suatu kenikmatan adalah penyakit yang umum menimpa jiwa manusa. Karena itu, Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan, mencampakkan budi baik yang telah Anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan. Bahkan, tak usah resah bila mereka sampai memusuhi Anda dengan sangat keji dan membenci Anda sampai mendarah daging, sebab semua itu mereka lakukan adalah justru karena Anda telah berbuat baik kepada mereka.
{Dan, mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.} (QS. At-taubah:74)
Coba Anda buka kembali catatan dunia tentang perjalanan hidup ini! Dalam salah satu babnya diceritakan: shajdan, seorang ayah telah memelihara anaknya dengan baik. Ia memberinya makan, pakaian dan minuman, pendidikannya hingga menjadi orang pandai, rela tidak tidur demi anaknya, rela untuk tidak makan asal anaknya kenyang, dan bahkan, mau bersusah payah agar anaknya bahagia. Namun apa lacur, ketika sudah berkumis lebat dan kuat tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu menggonggong kepada orang tuanya. Ia tak hanya berani menghina, tetapi juga melecehkan, acuh tak acuh, congkak, dan durhaka terhadap orang tuanya. Dan semua itu, ia tunjukkan dengan perkataan dan juga tindakan.
Karena itu, siapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalahi fitrah, sudah seyogyanya menghadapi semua itu dengan kepala dingin. Dan, ketenangan seperti itu akan mendapatkan balasan pahala dari Dzat Yang perbendaharaan-Nya tidak pernah habis dan sirna.
Ajakan ini bukan untuk menyuruh Anda meninggalkan kebaikan yang telah Anda lakukan selama ini, atau agar Anda sama sekali tidak berbuat baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin agar Anda tak goyah dan terpengaruh sedikitnya oleh kekejian dan pengingkaran mereka atas semua kebaikan yang telah Anda perbuat. Dan janganlah Anda pernah bersedih dengan apa saja yang mereka perbuat.
Berbuatlah kebaikan hanya demi Allah semata, maka Anda akan menguasai keadaan, tak akan pernah terusik oleh kebencian mereka, dan tidak pernah merasa terancam oleh perlakuan keji mereka. Anda harus bersyukur kepada Allah karena dapat berbuat baik ketika orang-orang di sekitar Anda berbuat jahat. Dan, ketahuilah bahwa tangan di atas itu lebih baik dari tangan yang di bawah.
{Sesunggunya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengarapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.} (QS. Al-Insan :9)
Masih banyak orang berakal yang sering hilang kendali dan menjadi kacau pikirannya saat mengadapi kritikan atau cercaan pedas dari orang-orang sekitarnya. Terkesan, mereka seolah-olah belum pernah mendengar wahyu Illahi yang menjelaskan dengan gamblang tentang perilaku golongan manusia yang selalu mengingkari Allah. Dalam wahyu itu dikatakan :
{Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitu orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.} (QS. Yunus:12)
Anda tak pernah terkejut menakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk menulis cemoohan kepada Anda. Dan Anda tak usah kaget, bila orang yang Anda beri tongkat untuk mengiringi domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke kepala Anda. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu mengingkari dan tak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung nan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingkari, maka apalagi kepada saya dan Anda.
Sabtu, 02 Juni 2018
Jujur Menyadari Kesalahan
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt., Dzat Yang Maha Mulia, Maha Gagah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semoga Alloh Swt. senantiasa melimpahkan hidayah-Nya kepada kita. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Saudaraku, tidak ada yang lebih mengancam kita daripada keburukan diri kita sendiri. Kita pasti punya kesalahan, kita pasti tidak suci dari dosa. Akan tetapi yang lebih berbahaya adalah jikalau kita tidak mau jujur untuk mengakui bahwa kita berbuat kesalahan dan punya dosa. Kalau kita kehilangan kemampuan untuk jujur ini, maka kita kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri. Dan, kalau kita tidak bisa memperbaiki diri, maka hidup kita akan senantiasa terancam oleh keburukan diri kita.
Ada seseorang yang dizholimi oleh orang lain, kemudian dia bertekad untuk membalas dengan kezholiman yang lebih berat. Tentu saja ini bukanlah jalan yang baik, karena orang itu sesungguhnya malah mengundang datangnya keburukan yang lebih besar lagi kepada dirinya.
Kita bukanlah manusia yang suci dari dosa, itu pasti. Tetapi ketika kita tidak mau jujur mengakui kesalahan, maka itu adalah petaka yang lebih pahit. Kenapa orang tidak mau jujur pada diri sendiri? Karena orang suka terjebak oleh topeng berupa pangkat, kedudukan, kekayaan, gelar, popularitas. Padahal semua itu sama sekali tidak identik dengan kemuliaan. Hanya karena merasa kaya raya, merasa bergelar banyak, merasa terkenal kemudian ia merasa selalu benar, padahal tidaklah demikian.
Nah saudaraku, kemampuan untuk jujur menyadari bahwa diri kita tidak mungkin luput dari salah dan dosa akan hadir jikalau kita punya kerendahan hati. Rendah hati berakar dari keimanan yang kuat kepada Allah Swt. Rosulullah Saw. bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Ibn Majah)
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah Swt. yang jujur mengakui kesalahan diri, kemudian bertaubat dan memperbaiki diri. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.
Mengumpulkan Bekal Terbaik
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Alloh Yang Maha Bijaksana, menggolongkan kita sebagai ahli syukur, yang senantiasa bisa menemukan hikmah dari setiap peristiwa dan mensyukurinya. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Allah Swt. berfirman, “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiyaa [21] : 47)
Saudaraku, sesungguhnya setiap apa yang kita lakukan, pasti akan mendapatkan balasannya kelak di akhirat. Amal perbuatan kita akan dihitung, ditimbang dan diberi balasannya. Ini adalah kebenaran, dan wajib kita meyakininya.
Keyakinan pada hari perhitungan ini akan melahirkan sikap yang luar biasa dalam diri kita. Tentu tidak ada yang ingin merasakan kesengsaraan hidup di akhirat, sehingga kita akan sekuat tenaga menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk dan perbuatan yang menyalahi petunjul Allah dan tuntunan Rosulullah Saw. Kita akan berupaya sekuat tenaga untuk hanya melakukan perbuatan yang diridhoi Allah dan sesuai petunjuk Rosulullah Saw.
Kebaikan sekecil apapun akan kembali kepada kita, dan keburukan sekecil apapun akan kembali kepada kita. Kitalah yang mengundang kebaikan bagi diri kita sendiri, dan kita pula yang mengundang petaka untuk datang kepada diri kita. Na’udzubillahi mindzalik. Jadi, kita tidak akan celaka oleh perbuatan orang lain, kita akan celaka oleh perbuatan diri kita sendiri. Sebagai contoh, seorang mujahid yang gugur di medan jihad, tidak bisa meraih syahid disebabkan niat yang salah di dalam hatinya. Oleh karena itu, yang paling berbahaya dalam hidup kita adalah kezholiman yang diri kita sendiri.
Kita senantiasa memohon kepada Allah Swt. agar dilimpahi hidayah sehingga kita terampil mengendalikan diri untuk hanya melakukan perbuatan yang Allah ridhoi. Karena inilah sebaik-baiknya bekal yang akan kita bawa ke akhirat kelak. Inilah sebaik-baiknya amal yang akan ditimbang di pengadilan Allah Swt. Hidup di dunia ini sebentar saja, maka sungguh merugi diri kita ini jika memikul bekal-bekal yang buruk dan sia-sia, sudah berat memikulnya, ditambah nanti hanya mendatangkan kerugian bagi diri kita sendiri.
Maka, beruntunglah orang-orang yang bisa memanfaatkan hidup yang singkat di dunia ini untuk mengumpulkan bekal yang baik-baik saja. Bekal-bekal yang Allah ridhoi saja. Karena inilah yang akan kembali kepada kita kelak di akhirat berupa keselamatan dan kebahagiaan di surga yang penuh kenikmatan. Semoga kita termasuk orang-orang yang demikian. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.
Belajar Pada yang Kecil
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Allah Yang Maha Baik, senantiasa melimpahkan hidayah-Nya sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang tersesat. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Tidak ada sesuatu sekecil apapun yang Allah Swt. ciptakan secara sia-sia. Bahkan atom yang sangat kecil sekalipun, yang sangat sulit terlihat oleh mata pasti ada manfaatnya. Dan, kepada berbagai ciptaan Allah yang lebih kecil dari kita, banyak yang bisa kita tafakuri dan kita ambil hikmahnya.
Jangan pernah memandang remeh sesuatu yang lebih kecil dari kita. Jangan pula memandang rendah kepada orang yang nampaknya lebih rendah dari kita. Karena mereka lebih kecil atau lebih rendah itu hanyalah secara fisik dalam pandangan kita saja. Sedangkan hakikatnya tidak demikian. Karena kemuliaan sejati tidak diukur dari besar kecilnya atau tinggi rendahnya.
Jikalau ada anak kecil yang dengan kepolosannya memberi nasehat kepada kita, maka berlapangdadalah untuk menerimanya dengan penuh kasih sayang. Karena tidak ada kejadian sekecil apapun kecuali Alloh yang mengizinkannya terjadi. Jika ada bawahan yang terlihat oleh kita sedang beramal sholeh, maka teladanilah. Tidak perlu gengsi hanya karena kita lebih tinggi jabatannya dari dia. Karena setiap nasehat kebaikan hakikatnya dari Allah, sedangkan manusia hanyalah menjadi jalannya saja.
Menerima pelajaran dari sesuatu yang lebih kecil atau seseorang yang lebih rendah adalah wujud ketawadhuan. Sedangkan tawadhu adalah jalan pada ketinggian derajat seseorang. Rosulullah Saw. bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Alloh menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)
Semoga Allah Swt. menggolongkan kita sebagai orang-orang yang rendah hati, yang mudah menerima kebaikan dan kebenaran meskipun datang dari makhluk yang lebih rendah atau lebih kecil dari kita. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.
Tenang Dengan Dzikrulloh
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diberikan sakinah, ketenangan hati, meski bagaimanapun babak hidup yang sedang kita hadapi. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Banyak orang mencari ketenangan dengan berbagai macam cara. Ada yang membeli vila mewah di pegunungan. Ada yang liburan ke tempat-tempat terpencil. Ada yang mengumpul-ngumpulkan harta kekayaan karena mengira semua itu bisa membuatnya tenang di hari tua, dan berbagai cara lainnya.
Padahal, Allah Swt. berfirman, “Dia-lah yang telah menurunkan sakinah (ketenangan) ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Alloh-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48] : 4)
Sesungguhnya hanya Allah yang kuasa menghadirkan rasa tenang di dalam hati setiap hamba-Nya. Sekeras apapun manusia “membeli” ketenangan dengan hartanya, jika Allah tidak menghendaki, maka ketenangan itu tidak akan pernah hadir. Maka tidak heran kalau ada orang yang sudah kaya raya, tapi tetap saja gelisah. Ada orang yang sudah berlibur kemana-mana, tetap saja tidak memperoleh ketenangan.
Mengapa? Itu karena ketenangan bukan pada berapa jumlah aset, berapa saldo di rekening, bukan pada tempat, melainkan pada hati. Dan, hanya Allah yang kuasa menghadirkannya di dalam hati kita. Karena Allah yang menciptakan hati kita dan hanya Allah yang kuasa membolak-balik hati kita.
Bagaimana sakinah bisa datang? Allah Swt. berfirman, “..Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ro’du [13] : 28)
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan kita, saat sempit, saat lapang, saat susah, saat senang. Saat diam maupun saat bekerja. Dalam lisan maupun perbuatan. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang beruntung karena diberi ketenangan oleh-Nya. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.
Jumat, 01 Juni 2018
Kisah Orang Tekun Ibadah yang Masuk Neraka
Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil. Yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sebaliknya: sangat tekun beribadah. Yang terakhir disebut ini rupanya tak henti-hentinya menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa hingga mulutnya tak betah untuk tidak menegur.
"Berhentilah!" sergahnya
Teguran seolah hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri. Perbuatan dosa berlanjut dan sekali lagi tak luput dari mata saudaranya yang rajin beribadah. "Berhentilah!" Sergahnya kembali.
Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"
Saudara yang ahli ibadah pun mengumpat, "Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga."
Cerita ini tertuang dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di ujung, Hadits tersebut melanjutkan, tatkala keduanya meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wata'ala.
Kepada yang sungguh-sungguh beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"
Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.
"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."
Kisah di atas menyiratkan pesan kepada kita untuk tidak merasa paling benar untuk hal-hal yang sesungguhnya menjadi hak prerogatif Allah. Tentu beribadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi takabur dengan menghakimi pihak lain, apakah ia bahagia atau celaka di akhirat kelak. Sebuah kata bijak menyebutkan, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”
Tentang etika dakwah, Islam pun mengajarkan bahwa tugas seorang mubaligh sebatas menyampaikan, bukan mengislamkan apalagi menjanjikan kenikmatan surgawi.
Vonis terhadap orang ini-itu sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, sangat tidak dianjurkan karena melangkahi Rabb, penguasa seluruh ciptaan. Islam menekankan umatnya muhasabah atau koreksi diri sendiri daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Tuhan.
Terima kasih telah membaca Kisah Orang Tekun Ibadah yang Masuk Neraka. Semoga pos dari situs web Artikel Islami berguna dan memberi manfaat. Baik untuk anda danbuat website Artikel Islami.
Langganan:
Postingan (Atom)
Section Team Class
Related Indexed : www.publiklampung.com Lecturer Indexed : www.ariesetyaputra.com NAMA TEAM : HASKELL Ketua Team : Reni Alfiani - ht...
-
Manusia yang paling tertipu ialah orang yang tertipu akan dunia yang sementara hingga ia lebih memilihnya dan puas dengannya daripada akh...
-
Pentingnya Kemasyarakatan dalam Ajaran Islam Sengaja kami memilih topik pembahasan ini, lantaran dosa yang dilakukkan di dalam tubuh ma...
-
☄ Sabar, satu kata yang mudah diucap namun tak ringan untuk dijalankan... ☄ Sabar, bukan hanya perkara yang tidak disukai bahkan juga dala...


